Mbah Latif, Pemulung yang Rajin Menghadiri Pengajian

Mbah Latif bersama Gerobak Kesayangannya Bersiap Menjemput Rizki Allah
Mbah Latif bersama Gerobak Kesayangannya Bersiap Menjemput Rizki Allah

Usia tidak lagi muda, 76 tahun lamanya beliau telah ada didunia, tubuhnya pun telah sesuai dengan usianya, kurus, keriput dan mulai renta, namun semangatnya bisa dikatakan masih luar biasa. Mbah Latif, begitu biasa anak-anak kampung memanggil namanya, beliau juga begitu akrab dengan Nanang Sanjaya, S.Pd selaku Sekretaris PRM Mayang dan anggota Team Kantor Layanan Lazismu Pakusari yang akan melakukan interview dan memberikan laporannya kepada lazismujember.org, karena saat masih di Desa Mayang, Nanang Sanjaya termasuk tetangga dan kenal dengan mbah Latif walaupun tida berdekatan rumah. 

Mbah Latif, kelahiran Jember, 1 Agustus 1973 ini adalah sosok lelaki yang sangat tegar dan tidak ingin pasrah kepada keadaan, semampu dan sebisa dia akan melakukan  sepenuh hatinya, saat ini beliau begitu akrab dengan sampah, karena memang sudah menjadi pilihannya dan pekerjaan yang bisa dan mampu dikerjakannya sesuai dengan keahlian dan kemampuan dari lelaki yang lulusan (SR) Sekolah Rakyat, atau setara dengan SD saat ini. "Mau cari pekerjaan apalagi mas saya ini? usia sudah tua, tenaga juga mulai lemah, pendidikan juga sangat rendah?", katanya bertanya dengan senyuman. "Ya, sudah diterima saja, Rizki Allah itu pasti ada", jelasnya dengan semangat.


Sosok mbah Latif yang Senantiasa Bersemangat Menjemput Rizki bersama Sampah
Sosok mbah Latif yang Senantiasa Bersemangat Menjemput Rizki bersama Sampah

Mbah Latif sebenarnya memiliki nama lengkap Abdul Latif, nama salah satu asmaul husna yang bisa diartikan sebagai Hamba (Allah) yang sangat lembut. Yaa, Mbah Latif begitu namanya, begitu lembut juga akhlaqnya, namun dengan logat madura yang kental, tutur katanya terdengar keras namun tidak kasar, lelaki tua ini tinggal sendirian di rumah kontrakan di Dusun Krajan Mayang RW.16 RT.01 Kec. Mayang Kab. Jember, rata-rata dia bisa mengumpulkan penghasilan sehari-harinya "hanya" Rp 35.000/ hari, itupun jika cuaca sedang bersahabat, cerah dan tidak hujan. Namun jika hujang datang apalagi sejak pagi hingga siang, maka beliau terpaksa harus menunggu dirumah, karena kondisi tubuhnya yang mulai melemah kawatir jika dipaksakan keluar saat hujan akan mudah sakit atau terpeleset dijalan yang licin.

Dirumah kontrakan yang hanya tersedia satu kamar dengan dapur seadaanya sekitar ukuran 4 x 6m itu dia tinggal sendiri, istrinya lama tidak bersamanya, dan saat ini sudah meninggal dunia, sedangkan kedua anaknya sudah berada ditempat lain bersama suaminya, kondisi perekonomiannya juga sebenarnya tidak jauh lebih baik dari keadaan Mbah Latif, sehingga beliau memutuskan untuk tinggal sendiri saja, tidak ingin menjadi beban bagi anak-anaknya. Untuk mencuci pakaian, dan membersihkan rumah dikerjakannya seorang diri, sedangkan untuk makan sehari-hari biasanya dia membeli makanan diwarung langganannya sebesar Rp 5.000/bungkus, "makanan seperti itu sudah sangat mewah bagi saya mas, kebutuhkan orang tua seperti saya yang penting cukup untuk mempertahankan hidup", katanya dengan mata menerawang.

"Bagaimana jika seandainya mbah Latif sakit?", tanya Nanang, "Ya, kalau sakit tiduran Nang, hehehee nunggu sampai sembuh", jawabnya dengan santai dan sedikit terkekeh, "Maksud saya mbah, siapa yang akan merawat mbah Latif? kalau tidak bisa jalan, makannya siapa yang menyuapin? dan membawakannya ke dokter?". kata Nanang lagi.

"Alhamdulillah Nang, mbahmu ini gak pernah kena stroke, mungkin karena jarang makan berlemak dan sering jalan-jalan sambil dorong gerobak, ha..ha... haaa....", dengan santainya Mbah Latif menjawab pertanyaan Nanang.

Dan memang, setahu Nanang, selama dia kenal Mbah Latif, belum pernah didengarnya keluhan sakit parah yang menyebabkannya tidak bisa beraktifitas, paling juga demam dan beberapa hari kemudian, bersama gerobak kesanyangannya dia kembali beratifitas lagi.

Mbah Latif memulai aktivitasnya selepas sholat subuh berjamaah di Masjid Jami' Al-Baitul Ma'mun - Kec. Mayang Kab. Jember, kebetulan Mbah Latif juga dipercaya sebagai salah satu marbot masjid disana, dia bertugas membersihkan lantai, kamar mandi, tempat wudhu dan seluruh kebersihan masjid bersama petugas lainnya, dan untuk kegiatan ini dia menyampaikan dengan ikhlas untuk tabungan akhirat, "membersihkan masjid itu tabungan saya di akhirat mas, tidak ada yang bisa saya sedekahkan selain tenaga dan waktu", katanya bersemangat. 

Selepas beraktifitas di Masjid, mbah Latif memulai aktivitasnya bergelut dengan sampah, dia akan bergerak ke perumahan Karangrejo, Sekolah Dasar Negeri Mayang 1, BTPN dan Puskesmas Mayang, tempat-tempat itu adalah lokasi dia bekerja untuk membersihkan dan mengangkut sampah-sampahnya, selanjutnya dibawa ketempat penampungan sampah Kecamatan, namun sebelumnya sampah-sampah yang dinilainya masih memiliki nilai jual, seperti plastik, kertas, kardus, besi dan semacamnya akan dia sisihkan untuk dikumpulkan dirumahnya, dan setelah terkumpul cukup akan dijualnya kepengepul.

Semua aktivitas itu dilakukannya dengan berjalan kaki dengan mendorong gerobak yang penuh sampah, namun disela-sela kesibukannya mangais rejeki dari memulung sampah, jamaah sholat 5 waktu senantiasa dia luangkan di Masjid Jami', sebelum waktu dhuhur biasanya mbah Latif sudah memarkir gerobaknya di halaman masjid, bersih diri, ikut sholat berjamaah baru kemudian istirahat sejenak sambil makan siang, selang beberapa menit kemudian dilanjutkannya untuk mencari sampah-sampah ditempat lain seperti Pasar Mayang, toko-toko dan sebagainya untuk menambah penghasilannya.

Baru kemudian aktivitasnya terhenti sebelum sholat asar berkumandang, diparkirnya gerobak ditempat yang sama, ikut jamaah seperti biasanya, setelahnya dia bersih diri dan bersiap pulang kerumah sambil mendorong gerobak berisi sampah bernilai rupiah yang akan ditata, dibersihkan dan ditumpuk dirumahnya sambil menungu mencukupi untuk dibawa kepengepul, aktivitas ini beliau lakukan hingga menjelang waktu magrib.

Seminggu sekali, Nanang Sanjaya seringkali mengajaknya ikut kepengajian PRM Mayang dan kadang-kandang ke PRM Pakusari, berboncengan sepeda motor, karena selama ini mbah Latif belum memiliki kendaraan sendiri untuk melakukan aktivitas, atau seringkali juga diajak oleh salah satu anggota Ranting yang bedekatan rumah dengannya, sehingga mbah Latif dengan usianya yang hampir seabad ini masih begitu bersemangat mengikuti pengajian, karena menurutnya ini untuk menambah bekalnya di akhirat, dulu masih muda kurang ngaji mas, sekarang saat sudah tua baru terasa, ternyata banyak ilmu baru yang diperoleh setiap ikut pengajian.

Di usianya yang tidak muda lagi, sebenarnya mbah Latif berharap bisa terus dengan profesinya bergelut dengan sampah, namun tubuh renta sulit untuk dibohonginya, tenaganya makin hari makin dirasakan semakin melemah, sehingga seringkali saat mendorong gerobakknya dia harus beberapa kali beristirahat sekedar menjaga ritme nafas dan tenaganya, mbah Latif dengan penuh harap berkata:
"alangkah indahnya apabila bisa dikerjakannya dengan motor atau kendaraan roda tiga pengangkut sampah" 
Beliau tidak mengeluhkan hidupnya, namun tinggal dirumah yang dikontraknya sebesar Rp 500.000/tahun sebatang kara, membuatnya juga seringkali bersedih hati, karena harus makan sendiri, dan beraktifitas sendiri.

Semoga ada dermawan yang berkenan membantu meringankan aktivitasnya untuk membersihkan sampah-sampah dan memberikan kenyamanan kepada banyak orang

Kepada para Donatur/Muzakki yang berkenan membantu menyantuni Mbah Latif silahkan bersinergi bersama Lazismu Jember.org bisa TRANSFER ke:


 Bank Syariah Mandiri (BSM) Jember
Norek: 7011737368 (Zakat)
Norek: 7011737352 (Infaq)
an. Lazis Muh. Jember
(Untuk memudahkan kontrol, silahkan tambahkan kode+12 saat transfer,
contoh: Rp 1.000.012)


Bagi yang telah Transfer dimohon dapatnya konfirmasi ke HOTLINE LAZISMU JEMBER melalui: SmS/WA ke: +6281232000995

Untuk Layanan Jemput Donasi (Seputaran Jember Kota):
Sutarman: 0822-3014-3354
Agus: 0812-3179-8356
Dedi: 0822-5777-3188
Rodi: 0822-3467-8055
Irul: 0852-5880-5309
Kamiludin: 0852-5723-8205 


Mbah Latif Menjemput Sampah di Rumah Warga
Mbah Latif Menjemput Sampah di Rumah Warga
Mbah Latif Menjemput Sampah di Rumah Warga
Mbah Latif Menjemput Sampah di Rumah Warga

Mbah Latif, Pemulung yang Rajin Menghadiri Pengajian Mbah Latif, Pemulung yang Rajin Menghadiri Pengajian Reviewed by Lazismu Jember on April 16, 2017 Rating: 5

Related Posts No. (ex: 9)